Tampilkan postingan dengan label tentang haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentang haji. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Desember 2012

Manfaat Melaksanakan Ibadah Haji dalam Kehidupan

manfaat haji
Travel Baitussalam - Berkenaan dengan Manfaat Melaksanakan Ibadah Haji dalam kehidupan, pada dasarnya masalah ibadah dalam ajaran agama Islam yang dijadikan sebagai obyek adalah ibadahnya itu sendiri. Akan tetapi hal ini tidak menjadi sebuah penghalang jika dalam melaksanakan suatu ibadah ada manfaat-manfaat lain yang berkaitan dengan masalah keduniaan, terutama dalam hal ibadah haji. Masalah keduniaan dan masalah agama, menurut pandangan Islam dapat saling melengkapi. 

Sebagaimana Allah berfirman: “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka”. (QS. 22 : 28). 

Selain mengandung makna rohani, ibadah haji juga merupakan muktamar Islam yang rutin diadakan setiap tahunnya, sebagai pendorong terhadap kaum muslimin agar senantiasa bersatu, saling tolong menolong dan saling kenal mengenal. Sebagai buktinya ialah semua syiar-syiar ibadah haji dilakukan secara kolektif atau berjamaah, mencakup semua kaum muslimin yang datang dari berbagai penjuru dunia. Dan setiap perkumpulan yang didasari dengan takwa dan taat kepada Allah, tentu lebih utama dan lebih berbakti daripada perkumpulan orang-orang lainnya. 

Keuntungan bersama yang dihasilkan dari ibadah haji ini bermacam-macam pula dan mencakup segi-segi politik, ekonomi dan sosial. Dengan berkumpulnya ribuan kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia, yang di antara mereka terdapat ahli-ahli pikir, para ilmuwan dan para ahli politik, membuat ibadah haji ini seolah-olah merupakan muktamar yang besar. Mereka bisa melakukan tukar pikiran demi kebaikan umat Islam, seperti memusyawarahkan penerapan syariat Islam di negaranya masing-masing, pembangunan di sektor pertanian, industri dan lain sebagainya. Dan bagi tiap-tiap negara Islam yang kaya mempunyai kewajiban dan tanggung jawab terhadap negara-negara Islam lain yang masih miskin. 

Rasulullah telah bersabda :

“Engkau lihat orang-orang mukmin dalam kasih sayang, mereka antara sesama bagaikan tubuh, apabila salah satu anggota sakit, maka seluruh tubuh akan terserang demam dan tak bisa tidur (Hadits riwayat Bukhari)”. 

Ibadah haji juga memperkuat ukhuwah Islamiyah di antara bangsa-bangsa Islam, mengajak untuk saling tolong menolong, dan mengingatkan agar yang kuat membantu yang lemah dan yang kaya senantiasa membantu yang miskin.

Itulah sebagian daripada manfaat melaksanakan ibadah haji dalam kehidupan, mudah-mudahan kita semua termasuk orang-orang yang memiliki kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji di baitullah.


Mengenal Perbedaan Umroh dan Haji

perbedaan umroh haji
Travel Umroh Baitussalam - Banyak orang yang belum mengenal perbedaan umroh dan haji, padahal ibadah umroh dan ibadah haji itu memiliki beberapa perbedaan walaupun sama-sama dilaksanakan di tanah suci Mekkah. Ibadah umroh dan ibadah haji juga sama-sama dapat menghasilkan pahala yang besar dari Allah, apabila kita dapat mencapai kesempurnaan ibadah tersebut. Baik, langsung saja kita mengenal perbedaan umroh dan haji. 
Dilihat dari segi waktu, ibadah haji memiliki waktu-waktu tertentu yaitu bulan-bulan tertentu yang tidak sah niat ihram haji kecuali di dalamnya. Adapun bulan-bulan tersebut yaitu: syawal, dzulqo’dah, dan 10 hari pertama dari bulan dzulhijjah. Sedangkan umrah, maka hari-hari dalam setahun adalah merupakan waktu dibolehkannnya untuk niat ibadah umrah, kecuali waktu-waktu haji bagi orang yang berniat ihram haji saja di dalamnya.

Adapun
dari segi manasik, dalam rangkaian ibadah haji terdapat wukuf di arafah, mabit di mudzdalifah dan di mina, melempar jumrah. Sedangkan umrah, hal-hal di atas tidak perlu dilakukan. Yang mana umrah hanya terdiri dari niat ihram, thowaf dan sai, halq atapun tahallul.

Ulama’ sepakat atas kewajiban menjalankan ibadah haji bagi yang mampu, sedangkan dalam umrah terdapat perbedaan pendapat hukum menjalankannya, apakah ia wajib atau tidak bagi yang mampu.


Mengenal perbedaan umroh dan haji sangat diperlukan. Ada beberapa perbedaan antara Haji dan Umrah, di antaranya sebagai berikut :

  • Umrah tidak memiliki waktu tertentu dan tidak bisa ketinggalan waktu.
  • Dalam umrah tidak ada wukuf di Arafah dan tidak ada pula singgah di Muzdalifah.
  • Dalam umrah tidak ada kegiatan melontar jumrah.
  • Tidak ada jamak antara dua shalat seperti dalam pelaksanaan haji. Demikian menurut Ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah. Sedangkan ulama Syafi’iyah berpendapat dibolehkan jamak dan qashar. Menurut mereka, haji dan umrah bukanlah sebab bagi bolehnya jamak antara dua shalat, melainkan sebabnya adalah karena safar (perjalanan).
  • Tidak ada thawaf qudum dan tidak ada pula khutbah.
  • Miqat umrah untuk semua orang adalah Tanah Halal. Sedangkan dalam ibadah haji, miqat bagi orang Makkah adalah Tanah Haram.
  • Menurut ulama Malikiyah dan Hanafiyah, hukum umrah adalah sunah muakkad sedangkan haji hukumnya adalah fardhu. Menurut ulama Hanafiyah, pada ibadah umrah tidak ada Thawaf Wada sebagaimana dalam haji. Membatalkan umrah dan melakukan thawaf dalam keadaan junub tidak diwajibkan membayar denda seekor unta yang digemukkan (al-badanah) sebagaimana diwajibkan dalam ibadah haji.
Demikianlah sedikit pemaparan untuk mengenal perbedaan umroh dan haji. memang terdapat beberapa perbedaan pendapat di antara para Ulama, namun itu adalah berkahnya ikhtilaf. smoga sedikit penjelasan ini bermanfaat bagi kita semua.


Kamis, 06 Desember 2012

Hikmah Melaksanakan Ibadah Haji

hikmah haji
Travel Baitussalam Jakarta Selatan - Ibadah haji merupakan ibadah yang sarat dengan pahala. Maka bagi siapa saja yang sempat melaksanakan ibadah haji sekali seumur hidupnya, sesungguhnya beruntunglah orang tersebut. Namun, banyak yang belum mengetahui mengenai apa sebenarnya hikmah melaksanakan ibadah haji. Di bawah ini, adalah beberapa hikmah melaksanakan ibadah haji :

1. Menjadi tamu bagi Allah

Kabah atau Baitullah itu dikatakan juga sebagai 'Rumah Allah'. Walau bagaimana pun haruslah difahami bahwa bukanlah Allah itu bertempat atau tinggal disitu. Sesungguhnya Allah itu ada dimana mana. Ia dikatakan sebagai 'Rumah Allah' kerana mengambil apa yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim a.s. oleh yang demikian orang yang mengerjakan haji adalah merupakan tamu istimewa bagi Allah. Dan sudah menjadi kebiasaan setiap tamu mendapat layanan yang istimewa dari tuan rumah. Rasulullah bersabda: "Orang yang mengerjakan haji dan orang yang mengerjakan umrah adalah tamu Allah Azza wa jalla dan para pengunjung-Nya. Jika mereka meminta kepada-Nya niscaya diberi-Nya. Jika mereka meminta ampun niscaya diterima-Nya doa mereka. Dan jika mereka meminta syafaat niscaya mereka diberi syafaat." (Ibnu Majah)

2. Mendapatkan tarbiyah daripada Allah
Di kalangan mereka yang pernah mengerjakan haji, mereka mengatakan bahwa Ibadah Haji adalah puncak ujian daripada Allah s.w.t. Ini disebabkan jumlah orang yang sama-sama mengerjakan ibadah tersebut sangat banyak hingga menjangkau angka jutaan orang. Rasulullah bersabda: "Bahwa Allah Azza wa jalla telah menjanjikan akan 'Rumah' ini, akan berhaji kepadanya tiap-tiap tahun enam ratus ribu. Jika kurang niscaya dicukupkan mereka oleh Allah dari para malaikat." Sabda Rasulullah lagi, "Dari umrah pertama hingga umrah yang kedua menjadi penebus dosa yang terjadi diantara keduanya,sedangkan haji yang mabrur (haji yang terima) itu tidak ada balasannya kecuali syurga." (Bukhari dan Muslim)

3. Membersihkan dari dosa
Mengerjakan Ibadah Haji merupakan kesempatan baik untuk bertaubat dan meminta ampun kepada Allah. Ada beberapa tempat dalam mengerjakan ibadah haji yang merupakan tempat mustajab untuk berdoa dan bertaubat. Bahkan ibadah haji itu sendiri jika dikerjakan dengan sempurna dan tidak dicampuri dengan perbuatan-perbuatan keji maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya sehingga ia suci bersih seperti baru lahir ke dunia ini. Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang melakukan Ibadah Haji ke Baitullah dengan tidak mengucapkan perkataan keji, tidak berbuat fasik, dia akan kembali ke negerinya dengan fitrah jiwanya yang suci ibarat bayi baru lahir daripada perut ibunya." (Bukhari Muslim)

4. Mempersatukan umat Islam
Ibadah Haji secara tidak langsung telah menghimpunkan manusia Islam dari seluruh pelosok dunia. Mereka terdiri dari berbagai bangsa, warna kulit dan bahasa. Hal ini membuka pandangan dan fikiran tentang kebenaran Al-Quran yang diterangkan semua dengan jelas dan nyata. Firman -Nya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal." (Al-Hujurat 13) "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlainan bahasamu dan warna kulitmu." (Ar-Rumm 22)

5. Iktibar dari peristiwa orang-orang sholeh
Tanah suci Mekah merupakan tempat yang menyimpan banyak rangkaian peristiwa-peristiwa bersejarah. Diantaranya sejarah nabi-nabi dan rasul, para sahabat Rasulullah,para tabiin, tabi’ut tabiin dan salafus soleh yang mengiringi mereka. Sesungguhnya peristiwa tersebut boleh diambil iktibar atau pengajaran untuk membangun jiwa seseorang. Rasulullah bersabda: "Sahabat-sahabatku itu laksana bintang-bintang di langit, jika kamu mengikut sahabat-sahabatku niscaya kamu akan mendapat petunjuk." Di antara peristiwa yang terjadi ialah:

Pertemuan di antara Nabi Adam a.s. dengan Siti Hawa di Padang Arafah.
Siti Hajar dan Nabi Ismail ditinggalkan di tengah padang pasir yg kering kerontang di antara Bukit Shafa dan Marwah.

Pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. menyembelih Nabi Ismail sebagi menurut perintah Allah.

Nabi Ismail a.s. dan Nabi Ibrahim mendirikan Kabah.

Lahirnya seorang anak yatim yang miskin dan serba kekurangan. Tidak tahu membaca dan menulis tetapi mempunyai akhlak yang terpuji hingga mendapat gelaran 'Al-Amin.

Medan Badar dan Uhud sewajarnya mengingati seseorang kepada kegigihan Rasulullah dan para sahabat menegakkan agama Allah.

6. Merasa berada di Padang Mahsyar
Bagi orang yang belum mengerjakan haji tentunya belum pernah melihat dan mengikuti perhimpunan ratusan ribu manusia yang keadaannya sama tiada berbeda. Itu semua dapat dirasakan ketika mengerjakan haji. Perhimpunan di Padang Arafah menghilangkan status dan perbedaan hidup manusia sehingga tidak dapat kenal siapa kaya, hartawan, rakyat biasa, raja atau sebagainya. Semua mereka sama dengan memakai pakaian selembar kain putih tanpa jahit. Firman Allah s.w.t: "Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah siapa yang paling taqwa." (Al-Hujurat-13)

7. Syiar perpaduan umat Islam
Ibadah Haji adalah merupakan syiar perpaduan umat Islam. Ini karena mereka yang pergi ke Tanah Suci Mekah itu hanya mempunyai satu tujuan yaitu menunaikan perintah Allah atau kewajiban Rukun Islam yang kelima. Dalam memenuhi tujuan tersebut mereka melakukan perbuatan yang sama, memakai pakaian yang sama, mengikuti tata tertib yang sama malah boleh dikatakan semuanya sama. Ini menggambarkan perpaduan dan satu hati umat Islam. Dan gambaran inilah yang semestinya diamalkan dalam kehidupan seharian umat Islam apabila mereka kembali ke negara asal masing-masing.

Itulah beberapa hikmah melaksanakan ibadah haji, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

Sumber : http://www.umrohhaji-travel.blogspot.com

Minggu, 02 Desember 2012

Nilai-nilai Ritual Ibadah Haji

ibadah haji
Ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang penuh dengan hikmah dan nilai-nilai ritual. Namun, masih banyak di antara kita yg belum mengetahui apa saja nilai-nilai ritual ibadah haji.
Ibadah haji terdiri dari rangkaian ritual yang saling berkesinambungan satu sama lain, merupakan warisan turun-temurun yang mana di dalamnya terdapat pesan baik secara eksplisit maupun inplisit yang sering kali  mendekati makna esoteric. Kandungan nilai-nilai yang terismpan dalam ibadah haji itulah yang akan mengantarkan kepada sejatinya manusia sebagai hamba, dan mahluk sosial.
Tujuan ibadah haji yang dilakukan umat Islam bukan untuk Allah, tetapi untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Hakikat manusia sebagai makhluk  dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji, dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan non-ritualnya, dalam bentuk kewajiban atau larangan, dalam bentuk nyata atau simbolik dan semuanya, pada akhirnya mengantarkan seorang haji hidup dengan pengamalan dan pengalaman kemanusiaan universal.

Ihram : Di sinilah pijakan pertama kali ritual ibadah haji di mulai, meliputi mandi sunah, mengenakan pakaian ihram, niat dan sholat sunah sebanyak 2 rakaat.
Niat merupakan tiang bagi semua ibadah.Maka tidaklah salah jika nilai sebuah ibadah tergantung pada niatnya dan kesempurnaan ibadah terletak pada prakteknya.
Ihram terdapat berbagai muatan nilai berupa theologis bahwa esensi haji absolut sebagai bentuk panghambaan kepada Allah, dengan niat pengesaan tanpa unsur duniawi. Dimensi psikologis setiap manusia akan merasakan gejolak jiwa ketika bertemu dengan yang disukainya, baik berupa perasaan senang, khawatir, takut dan lain sebagainya. Seperti hal nya ketika Ihram saat melepas semua pakaian berjahit dan berniat melakukan haji dengan segala bentuk ritual yang disyariatkan, berbagia rasa berbaur dalam hati manusia.Hingga mencapai sebuah puncak pengalaman spiritual manusia sebagai hamba yang bersifat universal.

Thawaf: yakni mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali. Al Qur’an menyebutkan Ka’bah merupakan rumah yang pertama kali dibangun, Peletakan batu pertama oleh nabi Ibrahim As pada pusat bumi berdasarkan ilham ilahi, Ka’bah secara vertikal satu titik dengan baitul ma’mur yakni tempat dimana para malaikat bertawaf. Penelitian sains telah mengungkap sebuah fakta bahwa Ka’bah terletak di pusat bumi, sebagai simbol rotasi alam semesta dimana matahari sebagai pusat tata surya dikelilingi oleh planet-planet.Disebutkan dalam riwayat bahwa ritual thawaf pertama kali dilakukan oleh nabi Adam As. Sebagi bentuk pertaubatan kepada Allah Swt. Ka’bah dikelilingi oleh jutaan umat muslim diseluruh dunia dengan membentuk putaran yang memusat pada satu titik, dengan penuh pengharapan, kerendahan diri dan penyucian jiwa. Semua manusia ketika berthawaf memusatkan gerakan kepada Ka’bah meski himpitan dan desakan tak dapat dihindari.
Thawaf merupakan simbol perjuangan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Menyatukan langkah dan memusatkan hati kepada eksistensi sang pencipta. Sehingga ketika ideologi manusia terpusat pada eksistensi sang pencipta, maka segala elemen yang ada mengitari pusatnya dan keridhoan Allah Swt lah merupakan hadiah terindah dalam kehidupan.

Sa’i: secara literal berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah selama tujuh kali putaran, banyak para ulama menafsirkan makna di balik angka tujuh ini, diantaranya tujuh lapisan langin dan bumi, namun apapun makna dibalik itu semua, ritual Sa’i dengan tujuh kali putaran bersifat tawqifi dan hakikat sebenarnya hanya diketahui oleh sang pencipta.
Sa’i memiliki simbol eskistensi perjuangan hidup manusia bahwa kehidupan selalu bergerak dan usaha merupakan bukti dari pada pergerakan hidup.
Dipandang dari segi sejarah, sa’i dilakukan pertama kali oleh seorang perempuan yang bernama Siti Hajar, beliau berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwa selama tujuh kali, dengan tujuan mencari air untuk sang buah hati yakni Ismail As. Kala itu mereka berdua berada di padang pasir yang tandus tanpa oase maupun pepohonan. Demi bertahan hidup sang buah hati, sang ibu bersusah payah mencari air, karna airlah merupakan sumber kehidupan.“ Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu”(QS.Al Anbiya:30)
Di sini ada hal yang menarik untuk disimak.Ada simbol perempuan dalam perjuangan, kasih sayang dan tanggung jawab. Ketika ia sendirian tanpa seorang suami, hanya berdua dengan sang buah hati yang saat itu tak henti-henti menangis, dengan kondisi fisik yang lemah hingga tak dapat memberikan ASI, sosok Hajar begitu kuat dengan segala keterbatasn fisik ia mampu berlari-lari mencari sumber kehidupan, satu dua kali bahkan sampai tiga kali hingga tujuh kali dia tak putus asa terus dan terus berlari hingga akhirnya ia menemukan pancaran air dari kaki sang bayi. Dalam kelemahan seorang perempuan terdapat harapan serta  semangat yang kuat dan bukti dari pada kasih sayang seorang ibu kepada sang buah hati segala pengorbanan akan ia perjuangkan.
Tokoh Siti Hajar mewakili sosial kultural saat itu dimana kedudukan wanita dipandang rendah, dan identitas Hajar sebagai budak dari kasta rendah, yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat kala itu. Namun Allah Swt  melalu sosok Siti Hajar mengangkat derajat perempuan tanpa memandang status sosial semua sama dihadapan Allah Swt. 
Bukti ketaatan perempuan sebagai seorang istri, yang ditinggalkan suaminya dipadang pasir yang tandus masih terkenang sampai saat ini, bukti dari perjuangan seorang ibu untuk sang buah hati kini menjadi ritual suci dalam ibadah haji.
Air zam-zam sampai saat ini masih terus mengalir, bersih dan penuh berkah mengisyaratkan bahwa layaknya manusia mencari sumber kehidupan yang bersih, halal sehingga memberikan keberkahan. makna lain dari sa’i ialah layaknya manusia melepaskan dirinya dari rasa takut dan hanya berharap dan meminta kepada Allah Swt.

Wuquf Arafah: wuquf merupakan tiang utama dari ibadah haji sebagai mana sabda Rasulluallah Saw.” Al haju arafah”.Wuquf di Arafah merupakan ritual yang paling sakral dalam prosesi ibadah haji.Wuquf secara eptimologi yakni berdiam diri.Dalam ayat-ayat al qur’an terdapat banyak korelasi antara haji dengan mengingat Allah Swt. Dalam surat Al Baqarah ayat 199-203 disebutkan esensi ibadah haji secara berurutan yakni mengingat Allah Swt. Sehingga wuquf memiliki makna berdiam diri dipadang yang luas untuk mengingat Allah Swt. dengan berdoa dan memaknai hakikat siapa diri ini dan kemana akan kembali.
Wuquf memiliki pesan persamaan semua manusia dari seluruh penjuru dunia, tanpa memandang ras, suku, martabat, tahta, bahasa dan lain sebagainya. Mereka berada dalam satu tempat yang sama, dengan satu kain pakaian yang sama, di bawah sengatan sinar matahari, semua sama-sama bermunajat kepada Allah Swt. Tak ada yang membedakan satu sama lainnya dihadapan Allah Swt. Kecuali ketakwaannya. Semua manusia akan berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.
Wuquf merupakan gambaran hari mahsyar, dimana kelak seluruh manusia dikumpulkan di bawah sengatan matahari tanpa sehelai kain, hanya amal merekalah yang menentukan. Sebagaimana Allah Swt. Berfirman dalam surat Al Syu’ura:88-89 “Hari dimana harta dan anak-anak tak akan berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Dan di hari itu didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertaqwa, dan diperlihatkan dengan jelas neraka kepada orang- orang yang sesat)”.
Wuquf memiliki pisikologis ketika manusia merasa satu perasaan, memiliki persamaan maka akan menimbulkan rasa saling memiliki, saling mengasihi dan menimbulkan persaudaraan. Dari persaudaraan ini lah timbul persatuan. Dalam skala besar makna persatuan umat muslim diseluruh dunia merupakan sumber kekuatan Islam.
Wuquf memberikan cerminan persamaan status terhadap sesama, ketika kita memahami hakikat maka semua sama tak ada status. Kelas yang membedakan derajat manusia. Hanya ketaqwaanlah yang membedakan makhluk di hadapan sang pencipta. Di samping itu wuquf merupakan manifestasi kebahagiaan manusia, dengan menanamkan nilai-nilai wuquf  manusia maka akan terealisasi  ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan. Karna hakikat hidup dengan mengingat Allah Swt kita tahu siapa sejatinya diri kita.
Dalam prosesi wukuf menuju melempar jumrah ada dimensi waktu perputaran siang dan malam, para Jemaah haji bermalam di muzdalifah, mengumpulkan batu dan kerikil guna melempar jumroh di mina.Di sini ada dimensi waktu dalam ritual perputaran siang dan malam.Dimana perputaran dua alam mengisyaratkan supaya manusia tidak melenceng kearah kanan dan kiri, selau konsisten dalam setiap keadaan.

Melempar jumroh:yakni melempar tujuh kali batu di mina pada tiga tempat yakni jumrah aqobah, wusto dan ula. Melempar jumroh merupakan simbol pengusir syetan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As. Ketika beliau hendak melaksanakan perintah Allah Swt. Untuk menyembelih Nabi Ismail As. Melempar jumroh memiliki makna pembersihan sifat-sifat kesetanan dalam diri manusia, keegoisan dan simbol nyata bahwa setan merupakan musuh manusia artinya pelemparan batu yang berkali-kali dan dalam tempat yang berbeda, mengisyaratkan bahwa dengan segala macam cara syetan akan mengajak anak cucu adam dan menyesatkannya dari jalan yang lurus. Makna lainnya dari melempar jumroh adalah pembebasan hati manusia dari hawa nafsu dan menjauhi perintah syetan, menuju kepada ketaatan yang hakiki.

Berqurban: Secara eptimologi yakni dekat atau mendekatan diri. Dalam Haji berqurban berarti mendekatkan diri kepada Allah, melalui penyembelihan ternak yang merupakan simbol kepatuhan dan ketaatan sebagai salah satu bentuk ketaqwaan kepada Allah Swt.
Dimensi sejarah qurban merupakan puncak pengorbanan tertinggi dari bapa pada nabi setelah melewati fase-fase ujian dan cobaan yang begitu berat, sampai akhirnya nabi Ibrahim As. Dapat melewati segala proses tersebut. Nabi Ibrahim sebagai simbol seorang ayah yang merelakan anaknya di qurbankan, padahal sang buah hati sangat disayanginya, sejak kecil ikatan seorang ayah dengan anaknya terpisahkan, ketika menginjak dewasa nabi Ibrahim As. Harus mempersembahkan sang buah hatinya kepada sang pencipta. Artinya qur’ban merupakan totalitas kepasrahan, kerelaan seorang hamba.Dan merupakan persembahan terbaik dari seorang hamba. Karna persembahan terbaik itulah yang akan diterima oleh Allah Swt. Sebagaimana dikisahkan oleh kedua anak Adam, Qabil dan Habil.
Selain itu, qurban adalah simbol perjuangan manusia mewujudkan solidaritas sosial ekonomi demi kesejahteraan bersama. Rasyid Ridho menyatakan, bahwa: “ ibadah qurban melambangkan perjuangan kebenaran yang menuntut tingkat kesabaran, ketabahan dan pengorbanan yang tinggi”.  Pandangan ini mengajak kita untuk menaruh perhatian yang tinggi kepada dimensi moral dan perjuangan kemanusiaan ini.Dan semua harus terus diperjuangkan bagi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan sosial.Kepemihakan Islam terhadap komunitas manusia yang miskin atau dimiskinkan oleh struktur sosialnya merupakan komitmen utama Islam. Menyembelih hewan adalah menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang menyesatkan dan yang seringkali tidak peka dan tak peduli terhadap penderitaan orang lain.
Tahalul merupakan prosesi  dalam ritual ibadah haji dengan mencukur sebagian rambut. sebagai simbol rasa syukur dan pembersihan jiwa dari hal-hal yang kotor. Sehingga manusia kembali kepada fitrah asalnya.
Makna yang yang ada dalam ibadah haji baik secara ekplisit maupun inplisit dan esoteris inilah  selayaknya diaplikasikan oleh umat muslim dalam kehidupan sehari-hari.

Sekian penjelasan mengenai nilai-nilai ritual ibadah haji, mudah-mudahan dapat memberikan manfaat bagi kita.

Sabtu, 01 Desember 2012

Sekilas Tentang Sejarah Haji


Sekilas Tentang Sejarah Haji. Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa pada setiap tahunnya puluhan juta umat Islam sedunia mendambakan untuk bisa pergi ke Tanah Suci Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. Bahkan, saat ini sekitar empat hingga lima juta umat Islam dari berbagai negara di belahan dunia ini sedang mempersiapkan diri guna melaksanakan ibadah haji.

Ibadah haji telah diperintahkan oleh Allah SWT sejak zaman Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW.  Menurut Ali Syariati, ibadah haji adalah sebuah demonstrasi simbolis dari falsafah penciptaan Adam. Gambaran selanjutnya adalah sebuah pertunjukan akbar tentang hakikat penciptaan, sejarah, keesaan, ideologi Islam, dan umat
.
“Allah adalah sutradaranya. Sedangkan, skenario atau temanya adalah tentang bagaimana perbuatan orang-orang yang terlibat dan para tokoh utamanya adalah Adam, Ibrahim, Siti Hajar, Ismail, dan iblis. Adapun lokasinya adalah di Masjidil Haram (Ka’bah), Mas’a (tempat sai), Arafah, Masy’ar, dan Mina. Simbolnya adalah Ka’bah, Shafa, Marwa, siang, malam, matahari terbit, matahari tenggelam, berhala, dan upacara kurban. Pakaiannya adalah ihram dan aktor dari peran-peran dalam pertunjukan itu adalah umat Islam yang sedang melaksanakan ibadah haji,” kata Ali Syariati.

Sebagaimana seperti yang telah dijelaskan dalam berbagai literatur mengenai ibadah haji dan umroh, pelaksanaan ibadah haji telah disyariatkan sejak zaman Nabi Adam AS hingga zaman Nabi Muhammad SAW. Adapun tata cara ibadah haji yang disyariatkan kepada para nabi dan rasul itu umumnya lebih banyak berkisar pada pelaksanaan tawaf atau mengelilingi Ka’bah. Berikut ini adalah sejumlah tata cara ibadah haji yang dilaksanakan sejak zaman Nabi Adam AS hingga sekarang ini.

Nabi Adam AS

Setelah beberapa waktu sejak diturunkan ke bumi, Nabi Adam diperintahkan oleh Allah SWT pergi ke Baitullah di Mekah untuk melaksanakan ibadah haji.
Menurut sejumlah riwayat, Ka'bah dibangun oleh para malaikat. Dan selama lebih dari 2.000 tahun, malaikat sudah melaksanakan tawaf (mengelilingi Ka’bah). Nabi Adam AS kemudian mengikuti apa yang dilakukan malaikat.
Ka’bah awalnya telah dibangun oleh malaikat. Kemudian, Nabi Adam AS diperintahkan untuk membangun kembali Ka’bah. “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia ialah Baitullah di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS Ali Imran [3]: 96).

Nabi Hud dan Saleh

Para nabi setelah Adam AS juga melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Ibnu Katsir dalam kitabnya, Bidayah wa an-Nihayah, menyebutkan sebuah riwayat Imam Ahmad bin Hanbal ra, Ibnu Abbas ra berkata, “Ketika Nabi SAW sedang lewat di Lembah Usfan pada waktu berhaji, beliau berkata, ‘Wahai Abu Bakar, lembah apakah ini?’ Abu Bakar menjawab, ‘Lembah Usfan.’ Nabi Bersabda, ‘Hud dan Saleh AS pernah melewati tempat ini dengan mengendarai unta-unta muda yang tali kekangnya dari anyaman serabut. Sarung mereka adalah jubah dan baju mereka adalah pakaian bergaris. Mereka mengucapkan talbiyah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah’.”

Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS

“Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di Baitullah (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu menyekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang bertawaf dan orang-orang yang beribadah, dan orang yang ruku dan sujud. Dan, serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan’.” (QS al-Hajj [22]: 26-28).
Nabi Ibrahim diperintahkan Allah SWT untuk mengajak umat manusia mengerjakan ibadah haji ke Baitullah. Selanjutnya, nabi-nabi lainnya mengerjakan hal serupa.

Nabi Muhammad SAW

Ibadah haji disyariatkan pertama kali pada tahun keenam Hijriah. Sedangkan, Nabi Muhammad SAW melaksanakan ibadah haji pada tahun kesembilan Hijriah.
Banyak ayat Alquran yang memerintahkan Nabi SAW dan umat Islam untuk melaksanakan haji, sebagaimana tuntunan Allah dalam Alquran (QS 3: 97, 22: 27, 2: 196, 9: 2-3, 9: 17, 9: 28, dan 22: 27).
Adapun tuntunan yang mesti dilaksanakan adalah tawaf (QS 22: 29 dan 2: 125), sai antara Safa dan Marwa (QS 2: 158), wukuf (QS 85: 3, 89: 2, dan 2: 198-199), berkurban (QS 89: 2, 22: 28, dan 22: 36), dan tahalul atau mencukur rambut (QS 48: 27, 2: 196, dan 22: 29).

Demikianlah sekilas tentang sejarah ibadah haji, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

Sumber : http://www.umrohhaji-travel.blogspot.com

Travel Baitussalam Umroh

Selasa, 27 November 2012

Keutamaan Ibadah Haji


Travel Baitussalam Jakarta - Sudah sama-sama kita ketahui bahwa haji adalah ibadah yang sangat mulia. Ibadah tersebut adalah bagian dari rukun Islam bagi orang yang mampu menunaikannya. Keutamaan haji banyak disebutkan di dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Berikut ini adalah beberapa keutamaan ibadah haji di antaranya:

Pertama: Haji adalah amalan yang paling afdhol.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1519)

Kedua: Jika ibadah haji tidak bercampur dengan dosa (syirik dan maksiat), maka balasan baginya adalah surga
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.” (Syarh Shahih Muslim, 9/119)

Ketiga: Ibadah haji termasuk jihad fii sabilillah (jihad di jalan Allah)
Dari ‘Aisyah—ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
“Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1520)

Keempat: Ibadah Haji dapat menghapus kesalahaan dan dosa-dosa
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521).

Kelima: Ibadah Haji akan menghilangkan kefakiran dan dosa.  
Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih)

Keenam: Orang yang pergi untuk ibadah haji adalah tamu Allah
Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri” (HR. Ibnu Majah no 2893. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Itulah beberapa keutamaan ibadah haji, begitu luar biasa pahala dari Allah yang akan diberikan bagi siapa saja yang menunaikan ibadah haji. Semoga kita semua termasuk kepada golongan orang-orang yang dimudahkan oleh Allah untuk menjadi tamu Allah di rumah-Nya. Semoga kita dapat mempersiapkan ibadah haji tersebut dengan kematangan, fisik yang kuat, dan rizki yang halal.
Semoga Allah mengaruniakan bagi kita haji yang mabrur, yang mana tidak ada balasan selain surga.

sumber: http://www.muslim.or.id